Pelatihan Ice Breaking Berbasis Kearifan Lokal Jambi untuk Calon Guru Sejarah

Muaro Jambi – Tim dosen Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakutas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Unversitas Jambi melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Mencairkan Suasana, Melestarikan Budaya: Pelatihan Ice Breaking Berbasis Kearifan Lokal Jambi bagi Calon Guru Sejarah.” Kegiatan yang dilaksanakan di ruang dekanat FKIP ini diketuai oleh Merci Robbi Kurniawanti, M.Pd., dengan anggota Andre Mustofa Meihan, M.Pd., Junita Yosephine Sinurat, M.Pd., Lisa Rukmana, M.Pd., dan Isrina Siregar, S.Pd., M.Pd.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan bekal kepada calon guru sejarah agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, sekaligus melestarikan kearifan lokal yang ada di Jambi. Para peserta yang terdiri dari mahasisa pendidikan sejarah dilatih untuk memanfaatkan kearifan lokal Jambi seperti pantun, tepuk tradisional, permainan rakyat, hingga tarian sederhana sebagai media ice breaking di kelas. “Dengan cara ini, ice breaking bukan hanya sekadar mencairkan suasana, tetapi juga menjadi sarana melestarikan budaya Jambi dan meningkatkan kompetensi pedagogik mahasiswa sebagai calon guru sejarah,” ujar Merci Robbi Kurniawanti selaku ketua tim pengabdian.

Kegiatan berlangsung dalam dua sesi (teori dan praktik). Sesi pertama yaitu pemberian materi tentang konsep dasar ice breaking, urgensi pelestarian kearifan lokal dan ice breaking berbasis kearifan lokal Jambi. Selanjutnya, di sesi kedua para peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok membuat contoh ice breaking berbasis kearifan lokal Jambi, mulai dari tepuk melayu Jambi, pantun sejarah, hingga permainan tradisional. Selanjutnya, peserta mempresentasikan dan mempraktikkan ice breaking yang telah dirancang. Dengan demikian mahasiswa sebagai calon guru merasa lebih percaya diri dan terinspirasi mengembangkan pembelajaran yang lebih interaktif.  Pelatihan ini diharapkan menjadi langkah nyata bagi calon guru sejarah sebagai pendidik sekaligus sebagai agen pelestarian budaya lokal di era globalisasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *